hijrahcoach

Inilah 3 Perbedaan Coaching dan Training

Anda pasti familier dengan istilah coaching dan training. Sebagian orang mengira keduanya sama, padahal tidak. Lantas apa perbedaan coaching dan training?

Baik coaching maupun training sama-sama dilakukan dengan tujuan untuk peningkatan kinerja sumber daya manusia, baik personal atau tim di sebuah perusahaan. 

Peningkatan kinerja tersebut dilakukan seiring dengan tiga hal penting yang harus tumbuh dalam sebuah perusahaan yaitu knowledge atau pengetahuan, experience atau pengalaman, dan methodology atau metodologi. 

Coaching, Peningkatan Diri untuk Tujuan Khusus

Definisi coaching menurut ICF (International Coach Federation) adalah hubungan kemitraan antara seorang coach dengan seorang individu yang dijalin melalui proses kreatif, untuk memaksimalkan potensi personal dan profesional dari dirinya. 

Coaching menawarkan percakapan dan diskusi yang sifatnya dapat dieksplorasi secara dua arah, sehingga coachee mampu menggali ide-ide cemerlang dan memperkuat keyakinannya sendiri untuk melakukan pekerjaan secara maksimal. 

Jika dianalogikan dengan dunia olahraga, seorang coach yang bermitra dengan seorang atlet akan berusaha membuat sang atlet memaksimalkan kemampuan olahraga yang ada dalam dirinya, agar sang atlet dapat mencapai targetnya.

Coach dan atletnya akan saling bekerja sama secara intensif untuk memperbaiki kekurangan dari sang atlet, menyiapkan strategi dan mengatasi hambatan mental yang bisa menghalangi sang atlet untuk tampil secara optimal. 

Konsep tersebut dapat diadaptasi dalam dunia bisnis untuk memaksimalkan kinerja para karyawan. Para karyawan baru kerap mendapatkan pelatihan umum untuk meningkatkan semangatnya dalam bekerja dan menyamakan visi misi.

Mulanya coach dan coachee bersama-sama akan menyepakati beberapa hal sebelum coaching seperti tujuan yang ingin dicapai, jangka waktu, area-area pengembangan, dan faktor-faktor lain yang akan mempengaruhi pencapaian target coaching

Kemudian, coach dan coachee bekerja sama untuk memperbaiki kekurangan, memberdayakan kekuatan, dan membuat strategi-strategi paling efektif untuk mencapai tujuan yang telah disepakati sebelumnya. 

Coachee akan dibantu untuk membangun mindset dan pemikiran baru agar mampu mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. 

Hasil dari sebuah proses coaching adalah membuat coachee dapat berpikir untuk dirinya sendiri, dapat mencari solusi untuk apa yang dihadapi coachee, mampu mengenali value dalam diri baik yang menghambat maupun yang bermanfaat.

Dengan begitu, di akhir coaching, coachee tidak perlu bergantung lagi dengan seorang coach. 

Training, Mencapai Efektivitas Kerja

Berbeda dengan coaching, training (pelatihan) adalah sebuah proses untuk membantu para trainee agar lebih efektif dalam bekerja melalui pikiran, tindakan, pengetahuan, kecakapan, hardskill, hingga sikap yang layak. 

Menurut seorang ahli MSDM, Gary Dessler, training dibutuhkan oleh seluruh karyawan baik yang baru maupun yang lama. 

Maksudnya, training sebaiknya dilakukan secara berkala. Misalnya saat penerimaan karyawan baru, pendelegasian tugas, dan juga untuk karyawan yang masih melakukan kesalahan-kesalahan dalam pekerjaannya. 

Tujuan yang ingin dicapai dari sebuah training adalah supaya setiap karyawan mampu melakukan segala pekerjaan yang akan ditugaskan dan mampu meminimalisasi kesalahan yang mungkin akan terjadi ketika bekerja nanti. 

Contoh training yang sering diadakan oleh perusahaan adalah pelatihan kemampuan, pelatihan ulang, cross-functional training, pelatihan kreativitas, dan teamwork.

Mengenal Perbedaan Coaching dan Training

Selain perbedaan secara definitif, berikut adalah beberapa pembeda antara coaching dengan training yang lain. 

Materi yang Diberikan

Dalam coaching, materi yang diberikan cenderung bersifat general. Misalnya pada pengadaan coaching di perusahaan, coachee bisa berasal dari divisi yang berbeda-beda dan tidak saling berhubungan sama sekali.

Coach akan berperan sebagai motivator dengan menitikberatkan pada materi yang diajarkannya saja. Maka, tidak heran jika ia terkadang tidak bisa menjawab seluruh pertanyaan dan kebutuhan para coachee

Tidak sama dengan coaching, materi training cenderung lebih spesifik. Materi training biasanya akan berbeda dari trainer yang satu dengan lainnya. 

Metode Pelaksanaan

Lalu dari segi metode, training dan coaching juga berbeda secara signifikan.

Training adalah gabungan dari proses mengajar, mendidik, dan melatih seseorang untuk mendapatkan pengetahuan dan skill baru, sehingga metode yang biasanya digunakan adalah ceramah satu arah. 

Trainer akan berbicara, dan trainee mendengarkan. Di sini, training terdengar seperti proses belajar mengajar. 

Walaupun seringkali dilakukan satu arah, beberapa training khususnya untuk training dengan peserta dewasa, ceramah bisa dilakukan dalam dua arah. 

Mulanya, ceramah akan ditanggapi dengan pengalaman peserta, selanjutnya ada pula materi praktik agar materi lebih mudah dipahami dan secara langsung ditiru oleh para peserta. 

Guna melancarkan proses training, para trainer dapat melakukan praktik yang bisa lebih mudah dipahami oleh para trainer dan dapat mereka contoh pada saat itu juga. 

Karenanya, para trainer tidak hanya wajib memiliki pengetahuan mendalam akan sesuatu, tetapi juga memahami pengaplikasiannya.

Lain halnya dengan coaching. Coach akan lebih banyak menggunakan pertanyaan dibanding ceramah. Itulah alasan mengapa proses ini kerap kali disebut sebagai ‘seni mengajukan pertanyaan’. 

Coach memiliki cara yang kreatif dan interaktif dalam mengajukan pertanyaan dan menggugah hati coachee untuk menjawab sesuai dengan kondisinya. Pada saat itulah, coachee dapat menemukan jawaban pertanyaan dari dalam dirinya sendiri.

Coachee sesungguhnya telah dianggap memiliki kemampuan yang sudah memadai, sehingga coach tidak perlu memberi pengetahuan tambahan yang sifatnya teknis. 

Pusat pembahasan coaching akan lebih berfokus kepada masalah psikologis dan pengembangan seperti motivasi, mengingat coaching sifatnya memang jauh lebih general dibandingkan training.

Ikatan Emosional (Chemistry)

Dalam proses coaching, sangat dibutuhkan chemistry antara coach dan coachee untuk mempermudah proses mencapai tujuan. 

Oleh karena itu, coaching umumnya dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan dan juga obrolan ringan seputar keseharian para peserta coaching. 

Namun, training tidak membutuhkan afeksi semacam itu. Pasalnya, apa yang dilatih dalam training lebih ke arah hardskill sehingga tidak harus selalu ada chemistry yang kuat. 

Itulah beberapa perbedaan coaching dan training. Dengan memahami hal ini, Anda bisa menentukan pelatihan apa yang dibutuhkan guna mengembangkan diri dan karier.

Baca juga: Metode Coaching: Cara
Terbaik Meningkatkan Kualitas Banyak Aspek

Baca juga: Ini Perbedaan Coaching dan Mentoring

Scroll to Top